Menyambut pesta kemarau
Nurani dedaun mengitari kesejukan
Semarak gempita sorakan musim
Tarian burung kenari kasmaran
Gemulai putri-putri angsa
Sambil mengintip kumbang berciuman mesra
Terik, peluh dan penat hanyalah sepele belaka
Terobati gula-gula mujarab
Manisnya melancong ke tanah air
Embun metropolitan kerap menyapa
Angin selatan mengusap rambut perlahan
Dari ketinggian balkon hati wanita
Memanjatkan sketsa-sketsa rindu memanja
Layaknya sultan pada megah beranda istana
Memandang pada kejauhan cakrawala
Lensa senja mendefinisikan panorama
Sejingga apa langit pernah berwarna
Mengecup halus pada kedua mata
Sekejap ibu mengandung
Bau-bau mendung membelai hidung
Kilat tanpa tersipu memecut bumi
Memecah keheningan tanpa restu alam
Kening mulai basah dibasuh hujan
Memberi variasi pada pesta kemarau
Alangkah kecewa persinggahanku
Sesingkat kalender perjanjian lama
Hanya merindu sisa nostalgia
Terlampiaskan pada pesta kemarau
-CumiDarat- 94 14-12-2009 ->r
Saturday, February 6, 2010
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment