Sunday, February 7, 2010

Kencan Seribu Musim

Menyeruput minuman manis berperisa jeruk
Lebih manis kencan berdua

Menjelang surya tenggelam
Penatnya siang semakin sirna
Lampu bianglala mulai dinyalakan
Komidi putar makin marak melaju
Seakan taman ria tak pernah tertidur

Kau gandeng erat ujung kelingkingku
Memelas memaksa masuk
Ke dalam tenda sirkus nan gemerlap
Tak kuasa menolak
Ajakan lesung pipit mata berbinar

Hiruk pikuk penonton
Berdesak berebut kursi terdepan
Ramai ricuh nian
Semakin tak sabar menunggu

Tak lama lampu diredupkan
Disongsong keheningan tercipta
Sedangkan kami masih asyik
Berbagi kembang gula berwarna ceria

Terlihat seorang pria wibawa
Dengan bangga unjuk kebolehan
Penuh nyali memecut si raja hutan
Disambut gemuruh riuh sorakan
Tanda decak kagum pemirsa

Dilanjutkan gelak tawa bergaung
Hampir tersedak berondong jagung
merespons kekonyolon atraksi badut
mengocok perut seisi tenda
Lara diubah jadi gembira

Giliran tiba adegan "Flying trapeze"
Kemahiran sekelompok pemuda
Melontar diri di udara
tanpa gentar akan kehilangan nyawa
Nampak beberapa mulut ternganga
terperangah
hingga kami sekilas terlupa
momen manis petang itu
begitu tegang terpaku
jemari hangat merambat naik
menggenggam erat lengan ini
terasa pundak kiri menopang kepalanya
terdengar adinda berbisik,
"kalau eneng di atas sana, neng percaya, aa pasti siap sedia menangkapku"

Sekian lamunan singkat
kenangan diari masa lampau
walau nyata namun terlupa
Kencan seribu musim


-CumiDarat- 85 13-8-2009 ->rL

Arloji Maya

Menghitung mundur dari penghujung kisah
Menatap balik pada penjuru lampau
Berawal dari ibadah sia-sia
Tahajud kursi-kursi kosong
Segenap ratap tanpa jawab
Kesunyianku berdamai
Kian lama kian merindu
Walau hanya nada sederhana

Taukah kamu
Begitu nikmat tali persahabatan
Mengupas bersama hari demi hari
Tanpa kau tau, tanpa mereka tau
Seringkali sekilas terlintas
Sekilas terlintas
Ingin lebih dari sekedar yang kau tawarkan

Jika aku berada dalam pigura yg berbeda
Aku milikmu dan kau milikku
Menggenggam tangan halus itu
Tak sesederhana itu harapanku

Jika saja kau katakan iya
Mungkin saja akan terdengar lebih manis
Jika saja kau katakan iya
Mungkin saja akan terdengar lebih merdu

Anugrahkan cinta pada pemuja
Seakan kening dibasuh surga
Mengkudeta hatimu dimana pria itu bertahta
Menghapus kepahitan dilema

Aku bersulang pada cawan-cawan yang terangkat
Pada langit perkasa yang bertobat
Pada pipi gempal yang merona
Pada mawar merah yang bermekaran
Pada ekspektasi hampa seorang pemuja

Cuma ada di lamunan semu
Arloji maya

-CumiDarat- 86 17-9-2009 ->rC

My Bold Answer

Parade of our sweet broken memory
abruptly reemerged like a vintage film roll
though short time we did share
the moment i will always cherish

The story will never be the same
Now and then
The forbidden emotion
that we could not exchange
I won't lie should i say i miss you

If time would allow us
If only father time gives his consent
Only you and me
to be honestly disclose
the yearning of the past
the longing of the present
My frantic heart would tell
my chronicles while we were apart

Sad to regret
We are just not meant to be
Sorry to say
I would only be your passing memory

-CumiDarat- 87 27-9-2009 ->rR

Tahajud Hamba Pemuja

Dalam ranah maya hamba berekspresi
Mendongak dari derajat terendah
Hiraukan hamba wahai Gusti MahaKuasa
Hiraukan hamba wahai Gusti MahaKuasa

Sebelum Gusti berpaling muka,
hendak kembali pada peraduan
biarkan hamba bertutur kesah
reruntuhan iman insan nan rapuh

Bukan bermaksud tak tau budi
Mengeluh bising meracau
Galau demi galau
Mohon demi mohon
Maki demi maki

Gusti ampuni hamba
izinkan hamba bermimpi
karena hanya mimpi yang hamba punya

Anugerahkan pada tangan hampa
Mengubah mimpi jadi realita

Bukan sekedar
Lengkung senyum palsu
Bukan sekedar
Semu sukacita sementara

Menanti mukjizat nyata
Tahajud hamba pemuja


-CumiDarat- 90 3-10-2009 ->r

Saturday, February 6, 2010

Menanti Cinta Tertunda

puing-puing rindu tak berbalas
pada pesta angin musim semi
berdiri di sudut berkaca
segenap khayangan terisak

pada penjara dunia maya
bercerita pada kuncup-kuncup bisu
memanggil hujan
mengusir matahari

hatiku penuh dengan pengamen melankolis
dan pengemis sekarat kedinginan
menyimpan benci pada pejalan lalu lalang
cerca hina diludahi haram

ANJING!Murkaku memekik
memecut langit tak berbintang

sepanjang lintingan ganja batas kesabaran
mengayunkan parang nan berkarat

sampai kapan ego dapat tertahan
Menanti Cinta Tertunda
menggunting benang nestapa

rindukan perjamuan seribu kunang-kunang
memugar pilar-pilar runtuh
gerimis mereda lengkungan pelangi
bersulang atas saputangan yang kering

di kala kalender berhenti
Menanti Cinta Tertunda
Gusti selesai berkarya


-CumiDarat- 91 18-10-2009 ->rC

Tanpa Judul

Ketika mentari mengintip dari cakrawala
Pada pagi sabat tanpa judul istimewa
Terdengar buaian hymne khusyuk berkumandang
Seiring sejuta tahajud dipanjatkan

Keheninganku terusik
Oleh langkah perlahan
Kehadiran sosok menuju sempurna
Seakan paduan suara
Melantunkan keanggunan semesta

Keindahan tak tertandingi
Metafora tak mampu mendeskripsi
Majas bisu terperangah

Sudah sepantasnya
Namamu yang sederhana
Namun estetis bermakna
Tercetak pada kamus pria jatuh cinta
Dijajarkan pada definisi kata “jelita”

Sudah sepantasnya
Namamu serupa mahkota
Bersemayam di ubun2 pujangga
Menemani diriku bertahta wibawa
Atas perayaan kasmaran harsa

Pewahyuan ini
Kuberi judul tanpa judul
Ungkapan rasa kekaguman semata
Kemahiran Sang Pencipta mengukir karya
Lekuk wajah rona sempurna
Entah malaikat entah manusia
Melampaui artha estetika

Kuberi judul tanpa judul
Pewahyuan ini
Pagi sabat jauh dari sempurna
Menjadi sedikit lebih istimewa

-CumiDarat- 92 4-11-2009 ->IT

Sia-Sia

Kemuakan hampir tiba di penghujung toleransi
Stagnasi kekejian jaman
Berlari dari cacian pertapa murtad
Laknatnya pelacur buncit
Bersembunyi pada teralis seribu gereja

Pasak-pasak amarah tertancap kuat
Pencemooh bergumam sinis
Mengelabui indera pengendus,
Bangkai busuk seakan mewangi

Kemapuan rasional semakin menumpul
Anyir darah pekat tercium
pada tombak-tombak yang berkarat
kenistaan pujangga durhaka

Kapasitas cerebellum memekik ganas
meluap-luap memaki dan mengutuk
menodai masa muda yang gemilang
layaknya borok kian menghitam

kian lama kian meracau
elemen waras telah sirna dari pujangga
urat-urat memuai akibat lelah
energi tersalur tanpa makna, sia-sia


-CumiDarat- 93 14-12-2009 ->r

Pesta Kemarau

Menyambut pesta kemarau
Nurani dedaun mengitari kesejukan
Semarak gempita sorakan musim
Tarian burung kenari kasmaran
Gemulai putri-putri angsa
Sambil mengintip kumbang berciuman mesra

Terik, peluh dan penat hanyalah sepele belaka
Terobati gula-gula mujarab
Manisnya melancong ke tanah air

Embun metropolitan kerap menyapa
Angin selatan mengusap rambut perlahan
Dari ketinggian balkon hati wanita
Memanjatkan sketsa-sketsa rindu memanja

Layaknya sultan pada megah beranda istana
Memandang pada kejauhan cakrawala
Lensa senja mendefinisikan panorama
Sejingga apa langit pernah berwarna
Mengecup halus pada kedua mata

Sekejap ibu mengandung
Bau-bau mendung membelai hidung
Kilat tanpa tersipu memecut bumi
Memecah keheningan tanpa restu alam
Kening mulai basah dibasuh hujan
Memberi variasi pada pesta kemarau

Alangkah kecewa persinggahanku
Sesingkat kalender perjanjian lama
Hanya merindu sisa nostalgia
Terlampiaskan pada pesta kemarau


-CumiDarat- 94 14-12-2009 ->r