Menyeruput minuman manis berperisa jeruk
Lebih manis kencan berdua
Menjelang surya tenggelam
Penatnya siang semakin sirna
Lampu bianglala mulai dinyalakan
Komidi putar makin marak melaju
Seakan taman ria tak pernah tertidur
Kau gandeng erat ujung kelingkingku
Memelas memaksa masuk
Ke dalam tenda sirkus nan gemerlap
Tak kuasa menolak
Ajakan lesung pipit mata berbinar
Hiruk pikuk penonton
Berdesak berebut kursi terdepan
Ramai ricuh nian
Semakin tak sabar menunggu
Tak lama lampu diredupkan
Disongsong keheningan tercipta
Sedangkan kami masih asyik
Berbagi kembang gula berwarna ceria
Terlihat seorang pria wibawa
Dengan bangga unjuk kebolehan
Penuh nyali memecut si raja hutan
Disambut gemuruh riuh sorakan
Tanda decak kagum pemirsa
Dilanjutkan gelak tawa bergaung
Hampir tersedak berondong jagung
merespons kekonyolon atraksi badut
mengocok perut seisi tenda
Lara diubah jadi gembira
Giliran tiba adegan "Flying trapeze"
Kemahiran sekelompok pemuda
Melontar diri di udara
tanpa gentar akan kehilangan nyawa
Nampak beberapa mulut ternganga
terperangah
hingga kami sekilas terlupa
momen manis petang itu
begitu tegang terpaku
jemari hangat merambat naik
menggenggam erat lengan ini
terasa pundak kiri menopang kepalanya
terdengar adinda berbisik,
"kalau eneng di atas sana, neng percaya, aa pasti siap sedia menangkapku"
Sekian lamunan singkat
kenangan diari masa lampau
walau nyata namun terlupa
Kencan seribu musim
-CumiDarat- 85 13-8-2009 ->rL
Sunday, February 7, 2010
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment