Belajar berlapang dada
Maksud baik disalahartikan
Tak mengerti pola pikir sahabat
Rumit dan penuh buruk prasangka
Berhentilah bermain dan mencemooh
Sandiwaraku telah usai sejak lama
Begitu tulus menawarkan persahabatan
Diludahi hina karena keterbatasan pola pikir
Tak ingin lagi berkeliaran
Dalam skema permainan konyolmu
Merasa bodoh tertipu
Oleh topeng kemunafikan
Walau telah berhenti memuja
Masih begitu menghargainya
Mendapat balas cerca hina
Hanyalah pahit kuterima
Entah bagaimana
Menawarkan pilihan berdamai
Dengan cara begitu radikal
Solusi tak pernah tercapai
Karna kualitas pikiran yg sempit dan tertutup
Berbicara penuh angkuh dan selubung
Mengaku matang secara rohani
Maaf, itu tak kulihat dalam diri sahabat
Hanya sesumbar belaka
Mengapa mesti berperan antagonis?
Mengapa tetap berkeras pada persepsi yang salah?
Mengapa harus tampak seperti kontes melukai?
Ketika arbitrasi phlegmatis dapat ditempuh
Tuhan ampuni hambaMu
KasihMu lebih besar
Daripada Kasihku untuk sahabat
Ubahkan rumit jadi sederhana
Ubahkan keras jadi kasih
Ubahkan picik jadi tulus
Ubahkan konspirasi jadi rencana indah
Ubahkan prasangka jadi tangan terbuka
Demikian doa untuk sahabat...
Demikian kuAmini...
-CumiDarat- 83 16-5-2009 ->C
Ps: Aku bersulang pada semua cawan yang terangkat
Jika Damai boleh tercipta
Terjawab sudah pergumulanku
Sunday, September 13, 2009
Monday, August 24, 2009
Mimpi
Gelap malam masih bertahta
Menanti mentari bangun dari tidurnya
Di sana aku setengah terjaga
Tertawa dalam selimut tebalku
Muncul bayangan beralur
Kian silih berganti
Kala mentari masih terlelap
Kadang aku menangis
Berlinang ribuan tetes air mata
Terbawa suasana duka
Selimuti hati yang hampa
Kadang aku bahagia
Berlari puas pada dimensi tanpa batas
Melompat girang tanpa sebab yang pasti
Bertolak dari realita
Kadang aku terpaku
Tak bisa mencari jawaban
Arti dari yang kualami
Ada hitam, ada putih
Kadang aku murka
Meletup garang tanda emosi
Amarah menghujani diriku
Tanpa alasan berarti
Ajaib, ajaib dari Ilahi
Melatih kontrol emosi
Walau mata terpejam
Malam panjang terus berjalan...
-CumiDarat- 48 28-2-2005 ->r
Menanti mentari bangun dari tidurnya
Di sana aku setengah terjaga
Tertawa dalam selimut tebalku
Muncul bayangan beralur
Kian silih berganti
Kala mentari masih terlelap
Kadang aku menangis
Berlinang ribuan tetes air mata
Terbawa suasana duka
Selimuti hati yang hampa
Kadang aku bahagia
Berlari puas pada dimensi tanpa batas
Melompat girang tanpa sebab yang pasti
Bertolak dari realita
Kadang aku terpaku
Tak bisa mencari jawaban
Arti dari yang kualami
Ada hitam, ada putih
Kadang aku murka
Meletup garang tanda emosi
Amarah menghujani diriku
Tanpa alasan berarti
Ajaib, ajaib dari Ilahi
Melatih kontrol emosi
Walau mata terpejam
Malam panjang terus berjalan...
-CumiDarat- 48 28-2-2005 ->r
Aku Terjatuh
Mata jasmani tenggelam
Di kala matahari terpejam
Daun pintu terkunci
Diriku dan obsesi terisolasi
Pacuan emosi bergelora
Hingga menjelang pagi tiba
Aku, Sepi dan Logika
Terpendam jauh menuju sirna
Embun di pelupuk mata mengering
Hina hancur meratap derita
Meraih angan tak sanggup
Dunia, Aku tersungkur lelah
Wajah menegadah
Tangan terulur
Lutut mencium tanah
Menanti cahaya pengharapan
Stamina mental terkuras
Gemetar lunglai terantuk terjatuh
Sang maha kuasa tolonglah
Izinkan aku beranjak
beranjak dari jatuhku
-CumiDarat- 71 10-11-2007 ->r
Di kala matahari terpejam
Daun pintu terkunci
Diriku dan obsesi terisolasi
Pacuan emosi bergelora
Hingga menjelang pagi tiba
Aku, Sepi dan Logika
Terpendam jauh menuju sirna
Embun di pelupuk mata mengering
Hina hancur meratap derita
Meraih angan tak sanggup
Dunia, Aku tersungkur lelah
Wajah menegadah
Tangan terulur
Lutut mencium tanah
Menanti cahaya pengharapan
Stamina mental terkuras
Gemetar lunglai terantuk terjatuh
Sang maha kuasa tolonglah
Izinkan aku beranjak
beranjak dari jatuhku
-CumiDarat- 71 10-11-2007 ->r
Sapa Senyummu
Petang itu
Duduk di sofa hijau
Sunyi sepi diam mengigau
Kutanya kabar, memecah hening
Kau pun menoleh, sapa senyummu
Siang esok
Di lantai empat
Ramai riuh mencuri sempat
Kutangkap perhatianmu, kucoba
Kau menatap, sapa senyummu
Hari Bulan Tahun
Selama itu kuperoleh sapa senyummu
Adakah hatimu?
kuketuk lewat hembusan sapaan
Kusentuh lewat belaian perasaan
Kau balas, sapa semyummu
Lelah rasanya
Matahari semakin pudar
Kucoba sekali lagi
kecupan dari hati ke hati
Kulontarkan senyum
Petang yang kutunggu
kau jawab, sapa senyummu
Tambahmu, namaku kau sebut
Percakapan berlanjut...
-CumiDarat- 6 2004 ->P
Duduk di sofa hijau
Sunyi sepi diam mengigau
Kutanya kabar, memecah hening
Kau pun menoleh, sapa senyummu
Siang esok
Di lantai empat
Ramai riuh mencuri sempat
Kutangkap perhatianmu, kucoba
Kau menatap, sapa senyummu
Hari Bulan Tahun
Selama itu kuperoleh sapa senyummu
Adakah hatimu?
kuketuk lewat hembusan sapaan
Kusentuh lewat belaian perasaan
Kau balas, sapa semyummu
Lelah rasanya
Matahari semakin pudar
Kucoba sekali lagi
kecupan dari hati ke hati
Kulontarkan senyum
Petang yang kutunggu
kau jawab, sapa senyummu
Tambahmu, namaku kau sebut
Percakapan berlanjut...
-CumiDarat- 6 2004 ->P
Tentang Aku Kamu
Berdiri Aku Berdiri Aku
Membentang samudra terhampar luas
Berdiri Kamu Berdiri Kamu
Waktu sudah tak terbilang
Tak terucap,satu patah dua patah kata
Rasa hidup di dunia berbeda
Hari ini bukan esok
Esok bukan hari ini
Rasa mata baru terpejam sesaat
Sepasang tahun?
Memori hilang bagai tak pernah terlintas
Aku, Aku
Kamu, ya Kamu
Siapa percaya ada oase kehidupan
Dimana, hari ini ya esok
Dimana, aku ya kamu
Dimana hari ini dan esok adalah hari aku dan kamu
Dimana ada kisah
tentang aku kamu
Bilamana waktu berhenti
Agar tiada lagi
Aku Tentang kamu
Kamu Tentang aku
-CumiDarat- 7 2004 ->Rr
Membentang samudra terhampar luas
Berdiri Kamu Berdiri Kamu
Waktu sudah tak terbilang
Tak terucap,satu patah dua patah kata
Rasa hidup di dunia berbeda
Hari ini bukan esok
Esok bukan hari ini
Rasa mata baru terpejam sesaat
Sepasang tahun?
Memori hilang bagai tak pernah terlintas
Aku, Aku
Kamu, ya Kamu
Siapa percaya ada oase kehidupan
Dimana, hari ini ya esok
Dimana, aku ya kamu
Dimana hari ini dan esok adalah hari aku dan kamu
Dimana ada kisah
tentang aku kamu
Bilamana waktu berhenti
Agar tiada lagi
Aku Tentang kamu
Kamu Tentang aku
-CumiDarat- 7 2004 ->Rr
Saturday, August 22, 2009
Sempurna
Alis matanya tebal memanggil
Hasratku pulang
T'lah lama menghilang
Elok lekukmu gemulai meraih
Hatiku bertanya
Haruskah kupulang
Anak rambut menari angin menghembus
Nafasku tertahan
Parasmu menawan
Kisah terulang kapan berakhir
Lewat bibir terbilang
Sapaan hati mengiyakan
Tatapan mata almond cermin dirimu
Katakan kulupa
Kau bukan milikku
Putihnya gading halus kulitmu
Kubelai sutra
Menarik aku jangan
Senyummu tersipu indah berpijar
Terang aku terbata
Habis akan kata-kata
Gadis sempurna adakah kamu
Di depanku bukan punyaku
Di mimpiku kau anganku
-CumiDarat- 8 20-2-2004 ->P
Hasratku pulang
T'lah lama menghilang
Elok lekukmu gemulai meraih
Hatiku bertanya
Haruskah kupulang
Anak rambut menari angin menghembus
Nafasku tertahan
Parasmu menawan
Kisah terulang kapan berakhir
Lewat bibir terbilang
Sapaan hati mengiyakan
Tatapan mata almond cermin dirimu
Katakan kulupa
Kau bukan milikku
Putihnya gading halus kulitmu
Kubelai sutra
Menarik aku jangan
Senyummu tersipu indah berpijar
Terang aku terbata
Habis akan kata-kata
Gadis sempurna adakah kamu
Di depanku bukan punyaku
Di mimpiku kau anganku
-CumiDarat- 8 20-2-2004 ->P
Monday, August 17, 2009
Balada Pujangga Bisu
Mata sayu mengajakku tuk tidur
Namun pikiran tak mengijinkan
Kafein menabuh jantung bergemuruh
Masih terpaku pada layar kaca dunia maya
Ditemani surat tilang terbaring kaku di atas meja
Memaksa raga agar tidak terlelap
Seakan menunggu sesuatu
menunggu hujan di terik musim panas
mustahil...
Dear Diary...
Kuawali
kutoreh dengan pena baru
Merk serupa pena lama
Namun karakteristik jauh berbeda
Empunya kemasan jelita menawan
Kualitas impor layaknya teknologi terdepan
Semoga bukan pertanda buruk,
Pinta pujangga
Pena baruku...Biduan sengauku
Kamis 4 Juni 2009
Demikian kuawali curahan hati
Diari pujangga bisu
Bercerita pada dinding kamar yang tuli
Tentang biduan sengau mempesona
Daya tarik misteri ilahi
Fenomena ajaib menyihir sang pujangga
Mengundang imajinasi romantis
Layaknya drama sinetron favorit pemirsa
Teringat aksi panggung idola
Terperangah
Mempertunjukkan kebolehan olah suara
Mengolah mikrofon
Kian lama kian manis
Bak mengulum lolipop karamel
la..lala..lala....
demikian nada sendu
Berubah jadi hati berbunga
balada pujangga bisu
Membawa angan pujangga
Pada novel drama SMA
Pada atmosfer manis bermakna
Di saat dua insan berdiri berhadapan
Sang biduan bertumpu pada jari kakinya
Mencoba meraih dan merangkul
Beradu dengan nafas mentholnya
Dengan kedua mata menatap manja
Terpantul cerminan wajah pujangga
Dunia serasa milik berdua
la..lala..lala....
demikian nada sendu
Berubah jadi hati berbunga
balada pujangga bisu
Bagaikan balerina
Biduan menari indah mewarnai
Membuat hati pujangga luluh lantah
jatuh pada permainan emosi
Ditaburi confetti asmara
Bukan maksud hati
Menatap biduan juwita terlampau lama
Hanya mencandu di saat jumpa
Mengundang kisah spektakuler
Dalam agenda pujangga bisu
la..lala..lala....
demikian nada sendu
Berubah jadi hati berbunga
balada pujangga bisu
-CumiDarat- 83 4-6-2009 ->Ac
Namun pikiran tak mengijinkan
Kafein menabuh jantung bergemuruh
Masih terpaku pada layar kaca dunia maya
Ditemani surat tilang terbaring kaku di atas meja
Memaksa raga agar tidak terlelap
Seakan menunggu sesuatu
menunggu hujan di terik musim panas
mustahil...
Dear Diary...
Kuawali
kutoreh dengan pena baru
Merk serupa pena lama
Namun karakteristik jauh berbeda
Empunya kemasan jelita menawan
Kualitas impor layaknya teknologi terdepan
Semoga bukan pertanda buruk,
Pinta pujangga
Pena baruku...Biduan sengauku
Kamis 4 Juni 2009
Demikian kuawali curahan hati
Diari pujangga bisu
Bercerita pada dinding kamar yang tuli
Tentang biduan sengau mempesona
Daya tarik misteri ilahi
Fenomena ajaib menyihir sang pujangga
Mengundang imajinasi romantis
Layaknya drama sinetron favorit pemirsa
Teringat aksi panggung idola
Terperangah
Mempertunjukkan kebolehan olah suara
Mengolah mikrofon
Kian lama kian manis
Bak mengulum lolipop karamel
la..lala..lala....
demikian nada sendu
Berubah jadi hati berbunga
balada pujangga bisu
Membawa angan pujangga
Pada novel drama SMA
Pada atmosfer manis bermakna
Di saat dua insan berdiri berhadapan
Sang biduan bertumpu pada jari kakinya
Mencoba meraih dan merangkul
Beradu dengan nafas mentholnya
Dengan kedua mata menatap manja
Terpantul cerminan wajah pujangga
Dunia serasa milik berdua
la..lala..lala....
demikian nada sendu
Berubah jadi hati berbunga
balada pujangga bisu
Bagaikan balerina
Biduan menari indah mewarnai
Membuat hati pujangga luluh lantah
jatuh pada permainan emosi
Ditaburi confetti asmara
Bukan maksud hati
Menatap biduan juwita terlampau lama
Hanya mencandu di saat jumpa
Mengundang kisah spektakuler
Dalam agenda pujangga bisu
la..lala..lala....
demikian nada sendu
Berubah jadi hati berbunga
balada pujangga bisu
-CumiDarat- 83 4-6-2009 ->Ac
Sunday, August 16, 2009
Sesekali Dalam Gulita Malam
Sesekali dalam gulita malam
Kupandang teliti seksama
tunggangan ksatria perkasa
dua pasang karet hitam memasang kuda-kuda
Bersiap berguling mengadu aspal hitam
Kuputuskan penuhi keinginan hati
mengarungi jalan tak bertepi
dalam kecepatan tak tertandingi
tunggangan beroda empat...
melawan daya gravitasi
begitu piawai berakselerasi
Bahan bakar tanpa timbal beroktan tinggi
bergegas menuju karburator seakan berlari
piston menggebu
Vibrasi mesin semakin bergelora
dengung knalpot sumbang kian meramaikan suasana
ricuh sinkron dan selaras
memainkan tangga nada dalam B-minor
layaknya seperangkat pertunjukan orkestra
Terikat erat sabuk pengaman
pedal akselerasi kupijak dengan mantap
tanpa mengacuhkan speedometer berlomba
mata tak hiraukan berkedip
konsentrasi penuh tak terpecah
Berjudi dengan alam baka
Hembusan nafas terakhir jadi taruhannya
berpacu jantung bertabuh riuh
mengubah tempo adagio menjadi presto
menggenggam perseneling begitu erat
jemari terlihat mahir bermain kemudi
teguh pada haluan tak pasti
entah kemana aku dibawa pergi
musik berputar seolah mengiringi adegan aksi
Menenggelamkan diri dalam dunia autisme
membungkam atmosfer menjadi bisu
mengukuhkan eksistensi diri
manifestasi kegalauan hati
Dengung-dengung mengambil alih kesunyian
melucuti kesepian malam
adrenalin bertahta diatas kewarasan
mendorong diri terus melaju
menuju kepuasan hampa
solusi sementara atas absensi logika
Sesekali dalam gulita malam...
-CumiDarat- 84 13-8-2009 ->r
Kupandang teliti seksama
tunggangan ksatria perkasa
dua pasang karet hitam memasang kuda-kuda
Bersiap berguling mengadu aspal hitam
Kuputuskan penuhi keinginan hati
mengarungi jalan tak bertepi
dalam kecepatan tak tertandingi
tunggangan beroda empat...
melawan daya gravitasi
begitu piawai berakselerasi
Bahan bakar tanpa timbal beroktan tinggi
bergegas menuju karburator seakan berlari
piston menggebu
Vibrasi mesin semakin bergelora
dengung knalpot sumbang kian meramaikan suasana
ricuh sinkron dan selaras
memainkan tangga nada dalam B-minor
layaknya seperangkat pertunjukan orkestra
Terikat erat sabuk pengaman
pedal akselerasi kupijak dengan mantap
tanpa mengacuhkan speedometer berlomba
mata tak hiraukan berkedip
konsentrasi penuh tak terpecah
Berjudi dengan alam baka
Hembusan nafas terakhir jadi taruhannya
berpacu jantung bertabuh riuh
mengubah tempo adagio menjadi presto
menggenggam perseneling begitu erat
jemari terlihat mahir bermain kemudi
teguh pada haluan tak pasti
entah kemana aku dibawa pergi
musik berputar seolah mengiringi adegan aksi
Menenggelamkan diri dalam dunia autisme
membungkam atmosfer menjadi bisu
mengukuhkan eksistensi diri
manifestasi kegalauan hati
Dengung-dengung mengambil alih kesunyian
melucuti kesepian malam
adrenalin bertahta diatas kewarasan
mendorong diri terus melaju
menuju kepuasan hampa
solusi sementara atas absensi logika
Sesekali dalam gulita malam...
-CumiDarat- 84 13-8-2009 ->r
Subscribe to:
Posts (Atom)